Cahaya Angga

“AAARRGHHHH!!!” Suara teriakan membahana memecahkan keheningan malam di salah satu kamar di lantai lima suatu apartemen sederhana di Bandung. Angga, nama oknum yang baru saja berteriak itu menatap layar laptopnya yang hitam, sehitam awan yang menaugi kepalanya saat itu. Diliriknya keadaan kamar yang berantakan. Gelap, cahaya remang-remang sedikit masuk dari luar, dibalik jendela.

“Sial! Kenapa disaat-saat seperti ini harus mati listrik?!” ia mengacak-acak rambut hitam gelombangnya yang sudah agak panjang dari yang seharusnya, kemudian berdecak kesal, memikirkan bagaimana nasibnya menyelesaikan laporan yang harus diselesaikan besok sebelum ujian akhir semester. Ditambah lagi ia belum belajar untuk ujian besok, kepalanya pusing. Tiba-tiba, samar-samar ia mendengar suara dering pesan sms masuk dari handphone tak jauh dari tempatnya duduk. Angga berdiri, tanpa pikir panjang dia berjalan ke arah sumber suara dan.. DUGG! “AOW!!”ia terbentur kaki meja. Kini sambil meringis menahan sakit, ia pelan-pelan meraba permukaan meja dan menemukan handphonenya. Siapa? Buru-buru ia buka pesan baru itu dalam membacanya dalam hati.

“Itu cuma percobaan kok, Ga. Gue ngumpulin yang lain lagi.
Masa’ gue ngumpulin tugas sesama itu. Tenang aja.
Andri received at 23.30”

Anggak berdecak kesal, melempar benda kecil itu ke atas meja. Ia menghela napas berat, ingatan kejadian siang tadi kembali muncul di kepalanya. Siang tadi saat melewati meja teman sekelasnya, ia melihat selembar kertas dengan gambar yang terasa familiar. Andri, pemilik kertas di meja itu tidak ada, maka Angga langsung mengambil kertas itu dan diam-diam memeriksanya dengan cemas. Gambar itu sangat mirip dengan gambar miliknya. Kecemasannya terbukti. Kertas yang dipegangnya adalah kertas tugas akhir semester milik Andri yang sama persis dengan tugas yang ia kerjakan sendiri. Dua hari sebelumnya, Andri meminta softcopy gambar yang sama untuk menjadi referensi karena tugasnya masih jauh dari selesai. Angga yang saat itu tidak terpikir apa-apa langsung mengiyakan saja.

Bodoh, bodoh sekali kau, Angga. Bodoh sekali kau percaya padanya. Selamat, kau diplagiat!
Angga yang kesal pergi ke ruang pengumpulan tugas, masih berharap kalau ketakutannya berlebihan. Namun, matanya tidak salah menemukan kertas yang sama dengan nama yang sama terkumpul di meja pengumpulan tugas. Dadanya sesak. Kepalanya panas. Sekarang, lo mengirim pesan bahwa lo bersih dan tidak melakukan apa-apa! Teman macam apa lo?! Angga menggenggam tangannya keras. Ia mencoba mengatur napas dan mengambil sebotol air mineral yang tergeletak di meja.

Pelan-pelan Angga melangkah keluar kamar menuju balkon untuk mencari ruang yang lebih terang. Mencoba merokok, tapi pematiknya habis. Hilang sudah pengobat stresnya. Ia mengumpat lagi. Kepalanya pening, ia bersender ke pagar balkon. Ditenggaknya air mineral botol dalam satu napas, air segar sedikit menjernihkan kepalanya yang panas. Matanya melihat keadaan daerah sekelilingnya yang gelap karena mati listrik. Ia menghela napas. Sepertinya kebanyakan orang telah tertidur lelap dan terlalu lelah untuk menyadari mati listrik, pikirnya sambil menerawang kosong melihat ke bawah. Beberapa motor bergerak pelan beriringan, menderu-deru keras. Malam itu sama seperti malam-malam sebelumnya, tentu selain kegelapan yang menyelimuti. Beberapa pengemis terlihat berjalan tertatih kemudian berhenti, merebahkan diri di pinggir jalan, bermimpi di atas kerasnya aspal. Sementara semua orang tampaknya tak ada yang peduli, lelap dengan bantal empuk masing-masing.

Heh, dunia ini memang kejam, Angga meringis.

Tiba-tiba ia mendengar pintu kamar sebelah terbuka, dan seseorang keluar ke balkon. Angga refleks menoleh dan memperhatikan arah sumber suara. Seorang perempuan mengenakan kaos oblong yang longgar karena kebesaran dan celana batik santai. Rambut pendeknya diikat. Dengan prilaku sama, melihat ke sekitar, mengecek apakah yang lainnya juga mati listrik. Tak sengaja mereka beradu mata. Perempuan itu kaget, tapi kemudian tersenyum samar sambil mengangguk
Angga masih terpaku, tapi kemudian sadar, balas mengangguk. Penghuni baru? Ia belum pernah sama sekali bertemu dengan orang sebelah kamarnya, tapi akhir-akhir ini ia memang sibuk mengerjakan tugas akhir semester di rumah teman sehingga jarang pulang ke apartemennya. Baru tahu kalau kamar sebelahnya yang awalnya kosong, kini sudah terisi.

“Wah, mati lampu nih.” Perempuan itu berujar. Kedua tangannya kurus kecil, memegang pagar balkon sementara ia memperhatikan keadaan di lantai-lantai bawah.

“Yap, perfect!”

Perempuan itu menoleh. “Perfect?”

Angga tertawa miris, “Momennya sangat pas. Tugas gue belum beres dan belum di-save. Temen gue plagiat di depan mata gue sendiri tapi gak ngaku. Besok gue ujian akhir semester dan belum belajar. Pematik gue abis, dan” ia mengendus kaos biru dongker yang sedang dipakainya, “gue belom mandi.”

Perempuan itu mengangkat alisnya, terdiam sebentar, kemudian mengangguk. “Indeed.”

Angga melempar botol air mineral yang telah kosong ke tempat sampah. Pas langsung ke keranjang sampah di sudut.

“Hey.”

Angga menoleh, melihat perempuan di seberang kamar itu melempar sesuatu. Refleks ia menangkapnya dengan cepat.

“Hope it could solve your nicotine problem.” ujar perempuan itu sambil nyengir.

Angga membuka genggaman tanganya dan menatap permen karet mint di dalamnya. “Thank you.”ia ikut nyengir, membuka bungkus dan menggigit permen hijau itu kemudian mulai mengulumnya sambil bersandar di pagar balkon..

“Gue gak bilang itu gratis ‘kan.” Lanjut perempuan itu masih nyengir.

Senyum Angga menghilang dan hampir saja ia tersedak permen karet, namun sedetik kemudian ia tertawa. Hahaha, gak terduga nih cewek, batinnya dalam hati, lumayan. Angga kemudian melihat ke arah perempuan itu lagi. Ia menaksir umurnya baru 18 tahun, lebih muda 1 tahun di bawahnya, dari tingginya yang sekitar 160an cm. Kurus, garis-garis tubuhnya tegas, tapi sepertinya ia tidak lemah. Perempuan itu sibuk menatap ke langit, sama sekali tidak sadar kalau sedang diamati.

“Langit malam ini bagus ya?” ia menggumam pelan, tapi cukup utuk terdengar oleh Angga. Angga pun melihat ke arah langit. Benar saja, bintang-bintang malam itu terlihat jelas sekali. Berkelip-kelip indah, ratusan, bahkan mungkin ribuan. Langit pun berwana biru beludru, terhampar luas seperti permadani raksasa yang menaungi bumi. Bulan purnama bulat besar berada tepat di tengah-tengah mereka, berpendar dikelilingi awan-awan tipis. Angga menahan napas.

“Kalo malam ini gak mati listrik, kita gak akan bisa melihatnya seindah ini.”

Angga termenung. Ia membenarkan itu dalam hati. Isu polusi cahaya sudah sering ia dengar, tapi baru kali ini ia menyadari efeknya secara langsung. Rumah, gedung-gedung tinggi, toko-toko yang gemerlapan cahaya lampu sedikit banyak mengurangi cahaya langit yang terlihat di bumi. Sekarang langit sedang bebas-bebasnya karena bumi yang gelap dibawahnya. Lebih jauh lagi, ia memikirkan kembali bagaimana kekesalannya saat mati istrik ini terjadi, umpatan, serta keluhan. Seperti anak kecil saja, sesalnya dalam hati, aku seperti anak kecil cengeng yang manja.

Perempuan ini, Angga bertanya-tanya dalam hati, siapakah ia? Kenapa semuanya tiba-tiba terjadi? Ia menatap kembali bulan dan bintang-bintang berkilau di langit. Tiba-tiba saja tanpa sadar, Angga sudah menghitung bintang-bintang itu.

“99, 100, 101,..”

“Berapa?”

Angga tersentak dan ia mendapati dirinya tengah menunjuk ke arah bintang terakhir yang terlihat. Perempuan di seberang balkon tidak bergerak dari tempat terakhir Angga meliriknya, tapi ada berbeda dari raut wajahnya yang bulat. Angga dapat melihat tatapan matanya yang berbinar-binar..

“103.”

“Kamu punya hobi yang aneh ya?”… bibirnya tersenyum tipis, sedetik kemudian perempuan itu tertawa.

“Sejauh ini berapa jumlah bintang terbanyak yang pernah terhitung?”

“Pertama, saya memang aneh dan saya bangga dengan hal itu.”jawab Angga mengakui sambil merapikan rambutnya yang berantakan terbelai angin dingin malam, “Kedua, ini adalah jumlah terbanyak selama saya tinggal hampir setahun di Bandung. ” Mungkin karena ada kamu di sini, lanjut Angga dalam hati, tersenyum
sendiri.

Perempuan itu mengangguk. Ia menatap kembali bintang-bintang di langit, termenung.

“Jadi,” Angga membuat balon permen karet kecil di mulutnya, “Kenapa kamu pindah ke sini?”

“Kamu?”

“Dekat dengan kampus.”

“Mirip.”

“Mirip?”

“Mahasiswa baru tahun ini. Kehabisan tempat kos. Perantau. Apa lagi?”

“Pelarian?”

Hening sejenak. Perempuan itu menggigit bibir, memalingkan wajahnya.

Angga menelan ludah. Entah kenapa terasa ada yang menahan di tenggorokan, sesuatu yang berat. Ia ingin menarik kembali ucapannya. Tak bisa, ia menggigit lidahnya.

“Kamu tahu sekolah penerbangan dimana lulusannya akan menjadi pilot?”perempuan itu menatap kosong ke jalan raya kosong di bawah. “Adalah impianku sejak kecil untuk menerbangkan pesawat dan menyelam di atas awan. Woman on the sky. Aku berusaha untuk itu, keras sekali. Belajar, persiapan fisik, wawasan dan pengetahuan, hingga aku dipertemukan pada satu kenyataan pahit.” Ia terdiam tanpa sadar. Pandangannya mengabur. Segalanya tampak seperti pantulan-pantulan kaca bening tak terarah.

“Aku buta warna.” Perempuan itu buru-buru menatap ke atas langit. Ia mencoba menahan air matanya agak tidak jatuh, Angga tahu itu. Perasaan kalah oleh suatu keadaan diri sendiri dan tak berdaya apa-apa selain menyerah, pernah dirasakannya dahulu. Ah, ia sangat mengerti. Terlampau mengerti.

“Yaah.. akhirnya di sinilah aku berada. Bandung, mencoba memulai lagi segalanya dari nol.”ujar perempuan itu lirih seraya merapikan ikatan rambut pendeknya yang lepas.

“Maaf.”

Perempuan itu tertawa. “Hei, untuk apa minta maaf? Tidak ada yang perlu dimaafkan.” Ia menatap laki-laki di seberang. Sedikit terkejut dengan tatapan aneh yang diterimanya. Seperti tersedot ke dalam relung-relung terdalam hatinya sendiri. Seperti cermin. Ia mengenal tatapan itu. Itu adalah dirinya.

“Kamu telah memulai jauh sebelum orang-orang tahu bagaimana memulai.” Angga tidak melepaskan padangan matanya sedikit pun. “Mungkin kamu merasa segalanya sia-sia. Terhempas kembali ke tanah. Tanpa sadar, kamu sebenarnya sedang terbang lebih tinggi lagi. Jauh lebih dari siapapun.”

Sunyi. Hanya terdengar hembusan angin dan rintihan ranting pohon. Suara knalpot mengaung-ngaung di kejauhan kemudian tenggelam oleh keheningan malam. Sesekali sayup-sayup burung terdengar namun kemudian hilang. Kegelapan masih menyelimuti. Satu-satunya penerangan adalah sinar bulan pantulan matahari yang makin meninggi.

“Ah, hahaha… kenapa kamu serius sekali sih?” Tiba-tiba perempuan itu tertawa lepas. Ia terus tergelak, sesekali menyapu air matanya yang turun. “Kamu kalo serius lucu ya? Lain kali serius terus aja. Hihihi..”
Angga cengar-cengir. Bingung, tapi toh dia lega karena akhirnya suasana berubah cair kembali. Sekarang ia malah sibuk menikmati pemandangan di seberangnya itu sambil tersenyum-senyum. Merasa diperhatikan lagi, perempuan itu sontak terdiam sesaat.

“Kamu manis kalo ketawa.”celetuk Angga, senyum nakal menghiasi wajahnya.

“Berarti sebelum ini kamu menganggap aku jelek ya?” Perempuan itu memanyunkan bibirnya. Cemberut. Tiba-tiba saja telinganya terasa panas. Ia sibuk merapikan rambutnya dengan kikuk.

“Sedikit.” Angga menjawab dengan isyarat dengan jarak kecil antara jari telunjuk dan jempolnya. Kemudian keduanya tertawa lagi bersamaan. Sungguh malam yang aneh, pikir Angga. Malam ini penuh dengan keajaiban. Terasa sunyi senyap, tapi sebenarnya ramai dan penuh sesak oleh luapan-luapan indah. Terasa gelap pekat, tapi sesungguhnya terang dan benderang oleh cahaya-cahaya mempesona. Segala beban, masalah, dan derita seakan-akan menguap, menghilang tanpa bekas.

“Hey, ada yang bilang,” Angga menatap langit sekali lagi, “Lebih baik mencoba menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan—“ PLOP! Disaat yang bersamaan tiba-tiba saja listrik menyala kembali. Kelap-kelip lampu memenuhi ruang-ruang dan segalanya menjadi jelas dan nyata. Perempuan itu tersenyum lebar, mengangkat bahu.

“Ah! Baru mau ngajak candle light dinner.”Angga berdecak kesal.

“Well, so bad because that’s so sweet..” Perempuan itu menggeleng tidak percaya pada pendengarannya.

“Then I gues this is our goodbye.” Ia berbalik, melangkah menuju pintu ketika Angga berteriak.

“And your name, Miss-cute-girl-next-door?”

Lagi-lagi senyum nakal itu, pikir perempuan itu jengkel. Tapi toh ia tidak memungkiri bahwa senyum itulah yang membuat malam gelap ini menjadi bergelimang lentera. Ia terdiam sesaat, bimbang untuk menjawab. Dikepalanya tergambar apa yang telah terjadi detik-detik sebelum ini dan detik-detik setelah ini. Sejak saat ini, segalanya akan sangat berbeda. Akhirnya ia menoleh dan membuka mulutnya.

“Aya. Cahaya.”

Posted in Uncategorized | Leave a comment

160710

Some people feel like they don’t deserve love.
They walk away quietly into empty spaces, trying to close the gaps of the past.
-Into the Wild
(2007)

Liburan juni-agustus tahun ini tidak biasa.
Tidak hanya karena padatnya kegiatan di selang waktu dua bulan.
Atau keinginan tiba-tiba membabat habis buku-buku menarik yang tak akan bisa saya nikmati saat kuliah (hingga menggeser rencana bikin portofolio)
Atau perasaan aneh yang timbul tenggelam bak ikan mas gemuk warna oranye di kolam belakang villa isola

Ehm, terus terang saja, di bulan ini emosi dan logika saya berkecamuk.
Sering terjadi dialog-dialog bising di kepala saya antara kubu hati dan kubu otak.
Ibarat jiwa saya adalah presidium sidang, kubu hati adalah BPR I,II,dan V sedangkan kubu otak adalah BPR XIV, XVII dkk
dan dialog seru ini berlangsung dari matahari terbit hingga terbit lagi.
Sedikit gambaran mengenai dialog mereka:

Presdium sidang: Kali ini kita akan membahas inventaris masalah dari tiap BPR. Di mulai dari BPR I hingga BPR XVII. Dimulai dari BPR I, dipersilakan BPR I.
BPR II: Interupsi presidium sidang!
Presidium sidang: Silakan
BPR II: Ada baiknya kita membuat prioritas masalah yang akan dibahas. Untuk mengantisipasi kemungkinan adanya masalah yang penting tapi tidak sempat dibahas karena kehabisan waktu.
BPR XVI: Presidium sidang.
Presidium sidang: Silakan
BPR XVI: Lebih baik kita bahas satu per satu dari tiap BPR, untuk menghemat waktu. Kita juga tidak tahu apakah masalah tiap BPR sifatnya akan sepenting apa, mungkin saja semua berskala nasional. Daripada kita membahas lama lagi tentang skala prioritas, lebih baik langsung dimulai saja.

–pause–
yah, perdebatannya kira-kira semacam itulah.
gak penting sepertinya untuk dilanjutkan.

sejujurnya masalah utama yang sering diangkat oleh dua kubu dalam diri saya adalah masalah yang sensitif; perasaaan.
ketika lagi-lagi kehidupan saya dipenuhi oleh berbagai pilihan yang sulit.
ketika saya dihadapkan untuk memutuskan, dan bertanggung jawab penuh.
dan ketika saya menjadi lemah dan lingkungan mengendalikan saya karenanya.

Hubungan manusia dengan manusia diluar dugaan lebih rumit daripada hubungan manusia dengan Tuhan.
Dari semenjak sebelum liburan dimana saya dikecewakan oleh teman saya dan itu mempengaruhi sikap saya setelahnya.
Hubungan nyata dan friksi-friksi yang dulu tidak terasa kini sangat mengena.
Hingga hubungan abstrak yang mengawang-awang dan membuat saya lelah dengan diri saya sendiri.

Detik ini saya bercermin pada goresan-goresan pena di atas serat kayu.
ulinan kata berima
puluhan
ratusan
yang telah saya hasilkan sejak saat itu.
Hei, ada apa dengan saya sih?
Jujur saja bahwa ada sisi lain dari diri yang jarang bicara, kini menjadi aktif dan dominan.

Satu hal mencolok adalah kecintaan saya akan kata-kata.
Bagaimana muncul, mengambang ke permukaan dan membuat riak-riak kecil hingga gelombang besar
Dan perasaan lega yang lagi-lagi mengada.

Berbagai hal tertuang didalamnya,
dari sampah angkot, rembulan pengekor, hingga orang yang saya pikirkan tapi tidak memikirkan saya.
tumpah ruah
Sepertinya saya perlu membungkuk hormat pada Chairil Anwar untuk hal ini.
Atau berterimakasih pada panitia BDG26! yang memungkinkan saya ikut sketsa gedung merdeka dan mempertemukan saya dengan sang binatang jalang.

Dan ketika dipertemukan pada satu hal yang saya anggap tabu
tahu-tahu saya sudah tercebur terlalu dalam dan saya tidak bisa berenang.
Hanya bisa mengambang-ambang terbawa arus.
Hei, sebenarnya ini karena saya yang terlalu overthink (credit to raras)
Oh tentu saja semua orang mengalami hal yang sama, iya kamu juga
Dan saya memiliki cara bodoh sendiri untuk menghadapi hal tersebut

IYA.
Saya melakukan ini semua untuk menyibukkan pikiran saya.
Saya melakukan ini semua untuk mengalihkan konflik
Saya melakukan ini semua untuk meredam luapan-luapan ganjil tidak masuk akal
Saya melakukan ini semua untuk kebaikan saya sendiri

Tanpa saya tahu
Setiap akhir adalah sebuah awal yang baru

Dan saya terjebak dengan AWAL yang BARU!

Haha.
Ah, saya terjebak dalam lingkaran setan nih.
Haha.
Fokus lulus cum laude dulu saja sana sur!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

070710

Kau berdiri.
Kertas dan pena digenggammu.
Tersapu buih-buih gelombang, yang terhempas satu-satu. Basah. Kakimu basah.
Hari belum lagi dini, seperti waktu terhenti. Angkasa pekat tehampar. Bintang terhampar. Beratus-ratus. Berkelap-kelip.
Kau berantakan.
Memungut botol kosong mendarat di kaki mungilmu yang memucat beku.
Berkaus lengan panjang dengan sweater tipis. Rok lipit tipis panjang menerawangmu berkibar-kibar seperti rambut hitam pendekmu. Basah, lagi-lagi tersapu gelombang.
Kau bersimpuh.
Menjejalkan kertas ke dalam botol hijau bening tanpa label, menyumbatnya dengan seluruh energi yang kau miliki. Tanpa kata melepar botol itu ke samudra gelap di hadapmu.
Tak ada suara, hanya gemeletuk gigi dan napas pendekmu.
Tentu, dengan tatapan kosong mata indahmu, itu tentu.

***

Jika tulisanku ini sampai di tanganmu, mungkin inilah yang disebut takdir.
Seperti takdir kuda untuk maju bersama dengan pasukan perang.
Atau takdir kapal reyot tua tangguh untuk maju bersama bajak laut.

Hey, bagaimanakah rasanya?
Terbang, menari, meliuk, dalam bak air mahaluas?
Bernapas tanpa udara. Berjalan tanpa kedua kaki.
Apakah jari-jarimu berselaput?
Atau cuping telingamu meruncing kedap air?

Sepertinya aku terlalu bernafsu. Bertanya ini itu.
Aku..
Aku ingin sekali terjun ke duniamu, kau tahu?
Mereka berkata dunia di ‘bawah sana’ sangat indah.
Berjuta-juta makhluk aneh dan ajaib memenuhinya.
Mulai yang terkecil (aku tidak dapat melihatnya) berterbangan (jumlahnya semilyar?).
Hingga raksasa lebih besar dari lapangan tennis di belakang rumahku.
Mereka menjalani detik-demi detik waktu, siang dan malam tanpa terasa. Jam pasir pun tak bergerak.

Ada yang bilang duniamu penuh dengan misteri.
Tak ada yang tahu pasti apa aku dapat berpijak di sana. Tak berdasar. Hanya ada gulita.
Aku ingin.
Mungkinkah aku dapat bertemu naga berkaki seribu dengan sungut merah menyala yang dapat kutungggangi?
Atau penyihir bersirip lebar seperti pari dengan kulitnya yang licin dan liat dan bermocong runcing seperti hiu dengan tongkat ajaib berupa ulinan fosil anemone-anemone beracun?

Mungkin aku gila.
Tapi itu lebih baik daripada mati dalam kehampaan.
***

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Jaring aku

Ku raba jalinan benang tipis dihadapku
Jengkal nadi, saraf menyatu
Ku pandang figurmu menjauh
Akal, hati, linang trenyuh

Jaring laba-laba merangkap
Kau terbang tanpa cela, dekap
Tinggal diri terpana
Ribuan kata kini sirna

Ku tatap onggokan tubuh menangis
Ku saksikan kabut muncul magis
Ku remuk lidah telan hati miris
Ku relakan cinta yang takkan pernah habis

Posted in Uncategorized | Leave a comment

I had a vision..

I had a vision..

a childish yet daring vision

that I would be a sailormoon

and got a great team

and got to the moon

I had a vision..

A vision that I’ve had so long ago

that I used a single- dull 2B pencil

and started a line

and started a new world

I had a vision

an adventurous life on earth

and I held a treasure map

and I held a trip to Orangutan

… to be continued

Posted in Uncategorized | Leave a comment

just an assignment

Taman Mundinglaya No. 4; “When the New Meets the Old”

Ada yang menarik dari Jalan Mundinglaya. Bukan hanya keindahan pohon-pohon besar yang berumur ratusan tahun di sepanjang jalan lingkungan ini sekarang sedang menggugurkan daunnya, membuat nuansa autumn in Bandung. Atau satu ketika saya pulang dari kampus di sore hari, dimana hujan rintik baru saja reda, dan langit kuning sekali kala itu, dan saya terpilih menyaksikan lukisan alam terindah di langit senja- pelangi  setengah lingkaran sempurna yang membentang dari utara ke selatan jalan (waktu itu saya ditemani abang-abang penjual mie baso tapi entah kenapa suasananya tetap tidak romantis). Satu hal yang membuat saya tertarik adalah rumah-rumah yang berderet di sepanjang jalan yang telah berdiri sejak zaman Belanda. Beberapa sudah ada yang dibongkar dan berganti rumah baru, namun terdapat lima rumah masih menyisakan keanggunan karya wong londo itu, tak terkecuali rumah nomor empat yang kini adalah rumah sekaligus kosan yang saya tempati.

Rumah nomor empat ini memang sudah merepresentasikan kelawasannya dari tampak depan hingga ketika saya masuk ke dalamnya. Sempat berpikir dua kali sebelum saya memutuskan untuk kos di rumah ini, mengingat saya belum siap melihat noni Belanda transparan berpayung renda duduk di teras depan kalau saya pulang tengah malam dari kampus. Namun, toh pada akhirnya kunci kosan saya pegang dan tahu-tahu saya sudah duduk di teras depan kamar kos dan menatap satu ruang yang terhampar di hadapan saya, mungkin salah satu sebab saya memutuskan untuk kos di rumah tua ini.

Pohon jambu air yang baru setinggi tujuh meter, pohon mangga yang umurnya baru kemarin, bougenville, pohon jeruk kecil, tanaman rambat, hingga tanaman-tanaman pot mengisi inner court kecil di belakang rumah, membagi dua area kosan yang ada. Terdapat patung anak singa dan batu-batu artifisial di salah satu sudut dan kandang burung kosong di sebelah selatan. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah benda berwarna kuning di sebelah barat. Ayunan. Saya suka ayunan. Ayunan besi bercat kuning pucat terdiam seperti menunggu untuk di duduki, seperti lelah menganggur. Terdapat pula pagar besi berwarna cokelat gelap membatasi ruang hijau ini dan teras kamar kos dan membaginya menjadi dua. Begitulah atmosfir ruang di hadapan saya. Ya, taman ini memang tidak begitu luas dan diluar ukurannya yang hanya sekitar 8×8 meter atau 64 meter persegi, taman ini seperti bisu. Atau tertidur mungkin? Tidur panjang dan entah kapan akan terbangun.

Waktu berlalu, sejarah pun mengukir peristiwa di taman ini.  Dari kemunculan dua kamar mandi di sebelah selatan yang seperti tidak terencana, pohon jambu terserang hama putih, hingga saya yang terjatuh dan tersangkut di pagar kala hujan. Saya pun mengetahui sejarah mengapa taman ini berpagar. Sederhana, karena kepemilikan tanah yang berbeda. Kamar-kamar kos yang berada di belakang rumah memang umurnya masih baru, dibangun tahun 90an dibanding rumah yang memang sudah ada sejak tahun 50an. Lebih jauh lagi tanah kosan ini dibagi dua kepemilikan karena itu terdapat pagar besi yang membelah taman ini menjadi dua bagian. Bisa dibilang taman inilah titik pertemuan kedua tempat yang berbeda usia dan sejarah. Taman inilah saksi bisu peristiwa-peristiwa yang terjadi di keduanya.

You don’t know what you got till it’s gone, mungkin satu quote yang ada benarnya. Dengan tali-tali jemuran yang berseliweran dan tiang-tiang jemuran yang terpasang acak, taman ini seperti tidak terurus. Ditambah lagi dengan kemunculan dua kamar mandi ‘dadakan’ yang membuat ruang negatif di belakangnya, menjadi tempat tumpukan barang-barang bekas seperti kaleng-kaleng cat, kandang burung tak terpakai, genteng bekas, dan lain-lain. Bagi saya yang belajar desain, rasanya gemas sekali melihat dua ‘kutil’ alias kamar mandi ini (saya sebut kutil karena letaknya yang tanggung, ukurannya kecil, dan tidak terancang), tapi apa daya sudah terbangun dan saya pun terpaksa memakainya. Hal lain yang mengurangi pesona taman ini selain menjadi area penjemuran massal adalah rumputnya yang botak sehingga menyisakan genangan air seperti kolam (lagi-lagi ‘dadakan’) sehabis hujan. Ditambah lagi dengan penambahan torrent di sudut taman yang semakin membuat taman menjadi terkesan ruang ‘sisa’. Kekhawatiran terbesar saya nantinya taman ini benar-benar sudah terisi macam-macam benda, hilanglah sudah oase Mundinglaya nomor empat.

Sebenarnya manfaat apa yang saya bisa dapatkan dari taman kecil ini? Pertama kali pandangan mata saya jatuh padanya, saya membayangkan bisa menikmati segarnya udara pagi dan indahnya bintang di langit malam, atau bahkan hanya sekedar duduk di ayunan, hanyut dalam keheningan dini hari. Menikmati segelas susu hangat mengepul di teras sambil menatap rintik hujan yang jatuh satu-satu di atas daun, menghirup udara yang khas wangi tanah basah. Menyipitkan mata mengurangi cahaya matahari yang masuk karena silau siang hari dan angin Bandung yang sejuk, sepoi-sepoi menerbangkan daun-daun berguguran ke teras kosan. Terbayang pula saya dan penghuni kosan lain bercengkrama atau hanya bertukar kabar sambil lewat di taman, or just simply say hello. Jujur, saya berharap bisa melakukan ini itu di ruang terbuka hijau yang potensial ini, walau tentu saja itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Sebagai manusia yang sehari-hari berkutat dengan desain, tentu saya ingin sekali berbuat sesuatu untuk taman ini, apalagi ketika saya belajar merancang ruang terbuka publik dan prinsip-prinsip ilmu lanskap. Beruntung saya mendapat tugas untuk meredesain taman, dengan segera saya memutuskan untuk mengambil taman kosan ini sebagai objeknya. Dengan tambahan masukan-masukan dari penghuni kosan lain, sel abu-abu yang sudah jenuh memikirkan bagaimana desain yang menjawab permasalahan dan mengangkat potensi taman akhirnya bisa menghasilkan ide-ide kreatif yang sederhana namun diharapkan mengena.

Smooth Rendezvous” atau “Pertemuan Halus” adalah konsep yang saya bawa untuk redesain taman ini. Rendevu yang saya maksud di sini adalah bagaimana yang lebih tua, dalam hal ini rumah yang berumur 50an tahun, menyapa yang lebih muda, dalam hal ini adalah area kamar-kamar kosan, begitu pula sebaliknya. Bagaimanakah bentuk ‘pertemuan’ itu? Hal pertama yang akan saya lakukan adalah menghilangkan pagar besi cokelat tua yang membatasai area taman dan koridor atau teras kamar-kamar kos. Menurut saya perbedaan level sekitar 15 cm yang sudah ada sekarang sudah cukup membuat kesan perbedaan fungsi ruang. Sebagai tambahan, untuk peralihan antara lantai keramik teras dan tanah taman adalah dengan memberi batu kerikil atau baru koral diantara keduanya. Ini bertujuan untuk member gradasi dari hardscape menuju softscape dan menghasilkan pertemuan yang lebih ‘hangat’. Begitu juga untuk pagar besi yang membagi dua area taman karena dua kepemilikan, saya memutuskan untuk menghilangkan pagar dan penggantinya dengan tanaman perdu untuk menghasilkan kesan lebih ‘bersahabat’ dan ‘ramah’.

Belum afdol rasanya jika ada taman tanpa permadani hijau bernama rumput. Maka dari itu saya mengusulkan penanaman rumput di area sebelah barat di dekat ayunan bercat kuning berada. Untuk menghindari rumput yang akan rusak karena sering diinjak, saya juga mendesain area jemur dan jalan setapak dari batu kali sehingga terdapat zoning yang yang jelas dimana area sirkulasi, jemur, dan rekreasi. Dengan begitu penghuni kos dapat ‘enjoy the grass’ dan bercengkrama dengan nyaman, di sisi lain jemuran juga tetap kering sempurna. Kekuatan softscape juga saya andalkan dalam menjawab permasalahan dua ‘kutil’ alias kamar mandi dadakan. Untuk sedikit menyamarkan keberadaan kamar mandi, saya mendesain vertical garden pada bagian dindingnya. Keuntungan yang di dapat adalah selain dapat melunakkan dinding bata kamar mandi, juga menjadi elemen estetis pada taman.

Rendezvous’ atau pertemuan dapat diartikan dengan banyak hal. Akan tetapi  setidaknya, ‘smooth rendezvous’ pada taman ini dapat dirasakan dan dimaknai secara personal oleh setiap penghuni kos, bahkan memiliki kenangan atau memorinya sendiri. Kini, jika ada seratus alasan untuk lelah dan letih selepas kuliah, penghuni kos Mundinglaya memiliki seribu alasan untuk segar dan semangat kembali di taman milik mereka.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

memoar Surya kecil

_Background sound_ Homesick_KOC

Dua puluh tahun sungguh bukan waktu yang sejenak. Dua puluh tahun sudah sel abu-abu ini merekam segala kejadian masa lalu hingga sekarang.. as far as I could remember,

semuanya gak ada yang gak indah.. Semua gak ada yang lenyap gak berbekas..

Inget nggak?

TPI yang masih berupa rawa-rawa.. ampe mpok Siti?

Kini beralih fungsi jadi perumahan. gak heran jalanan banjir kalo ujan.

Tapi asik karena mujair atau sepat nyasar lewat dan w seru sendiri nangkepin (walopun akhirnya dapetnya ikan gapi)

Wjien?

Waktu kita sepakat manggil Wiji dengan wijen atau wijon?

Wijon yang narsis minta di foto terus.

Wijon yang centil sms pake bahasa Inggris padahal ga ngerti.

Wijon yang kalo mandi pake aer PAM?

Sekarang orangnya udah punya anak. Jauh di sana. Jauh dari awang-awang.

Inget sepeda keramat?

Waktu kita bertiga boncengan naek sepeda dengan keranjang di depan? Well, rasanya w sempet ditaro di keranjang itu.

Atau pas w dibonceng di belakang dengan arah kebalik, Waktu di jalan raya dan dibelakang kita metromini ngeraung-raung dan w pucat pasi. Mo mati rasanya.

W inget betul suara teriakan lemah w minta lo ngebut. Supir metronya malah nyengir. Ampas.

Atau pas kita nekat ke Yogya Departement store (sekarang udah jadi mall tanpa nama) naek sepeda. Begitu nyampe, w yang bonceng di belakang, kaki w tetep bengkok ga bisa dilurusin?

JAUH, KERAM BOI.

Waktu kita maen dufan-dufanan? Sepeda roda tiga w yang dijadiin kendaraannya wahana rumah hantu? OH sepeda roda tiga yang lo pake juga ampe (malpraktek) akhirnya jebol?

atau kursi putih lentur yang dibuat wahana kora-kora? Gak peduli ampe bopal-bopal diomelin tedy neny. Tapi itu adalah mainan terseru yang pernah ada.

Waktu kita maen bakar-bakaran di kebon pisang samping rumah? Semua kena bagiannya. Semua kebakar.

Waktu w minta dianterin ke TK (bekal w hampir tiap hari nasi uduk). Lo nganterin karena masuk sekolah SD petang. Berakhir dengan lo ngecengin w Parul, Nicky?

W yang keabisan kostum di salon buat hari kartini desperate dan lo sukses makein baju dinas neny yang putih dan masang stetoskop mainan w dan jadilah w BU DOKTER.

(dipasangin pula ma nicky, apa kabar dia?)

Trus w ngecengin lo balik ama Boris? Pinjem-pijeman Goosebumps, Animorphs dan serentet bacaan jadul lain.

Apa yang bertebaran kayak mayat di ubin atau pagar tiap hari minggu pagi?

Dingin, adem. Rasanya Jakarta lima belas tahun lalu masih membekas embun di ujung daun dan kesejukan murni. Pager rumah aja ampe dingin.

‘Kelekaran’ di teras depan yang dingin walopun baru bangun, masih belekan dan dilalerin.

Tedy baca Poskota langganannya.

Kita (masih) nemplok di pager. Dingin.

Masih adakah foto-foto kita di taman-taman TPI? Hahah, lucu.. sekarang w semakin mencintai kuliah lanskap nih.

Taman-taman TPI yang bagus dengan jembatan dan kolam ikannya yang BUESAAARR!!

Dulu kita sering mencap kepemilikan rumah di TPI.

‘Ini rumah gue’

“Yang ini dong gue”

“Bagusan punya gue”

Mungkin ada korelasinya dengan w yang sekarang kuliah arsitektur?

Hujan, Kita gak pernah mengeluh.

Maen ujan-ujanan adalah kewajiban! Bareng diah, bahkan ampe atap juga dijabanin. Bersyukur kita gak ada yang ampe disambar petir di atap.

karena kalian, Lagu-lagu masa kecil w bervariasi.

Dari kaset rekaman lagu-lagu yang kalian nyanyiin sendiri dari buku ijo tebel kumpulan lagu anak-anak.

Kring kring goes goes

maissy

chikita meidy

ampe N sync

No Doubt

Red hot chilli Peppers

Guns and roses

Bon jovi, boyzone, take that, air supply, blondie

HANSON

Aaron carter, A1,

Sungguh MTV adalah revolusioner musik di rumah.

(jadi inget pertama kali denger Radiohead di MTV Asia Hitlist dan w GAK SUKA BANGET)

ampe lagu-lagu kartun kayak dragon ball, sailor moon, mojacko, minky momo, pangeran dan dan dan putri syalala (HUAHAHAHA)

SMP w gak boleh 236 karena tiga generasi kita disana. Tapi toh akhirnya masuk situ juga(karena w ga mau masuk MTS n 24).

Ada Bu Titin S (small?) yang menjadi saksi tiga generasi kita

Pak Ichsan yang galak, Pak Surya yang cool dan santay, Bu Beitin yang ngasih soal ujian sebelum ujian (Lho?),

Bu siapa yang ngajar seni musik? dan lagu My Bonnie-nya, Bu Ellis dan Seni rupanya (w jadi anak kesayangannya gara-gara lo juga),

Bu Titiek yang cantik dan berkat dia w suka sastra dan bahasa Indonesia, Pak Sapto dan kacamata minus lapan nya dan segudang guru luar biasa lain.

236 yang matre. 236 yang dipinggir sawah, diantara perkampungan industri kecil.

Sibuk.

SMA adalah masa-masa sibuk dimana kita berjarak.

Jogja dan UNJ.

(SMA 68 WIBAWA SERTA MULIAAAA)

Lo sibuk dengan kuliah di jogja.

Lo sibuk dengan skripsi (walo suka minta bantuin w ngetikin karena w lebih cepet ngetik)

W sibuk dengan nilai-nilai w (yang harus sempurna? cih) dan organisasi

Tapi w gak bosen maen ke tempat kerja lo di sudirman (bela-belain pulang malem demi donlot Deathnote terbaru di kantor lo. I was out of my mind back then.)

Belakangan lo gak beliin w nasi goreng lagi.

Lo nabung untuk masa depan, dan w paham.

Ditengah-tengah SMA

satu diantara kalian pergi.

Pernikahan tentu bukanlah hal yang mudah dan sederhana.

Tapi w yang lugu gak tau apa-apa. Senang-senang saja.

Kekosongan itu muncul sehari setelahnya.

Ada yang hilang di balik pintu kamar itu.

Ada suara-suara yang dulu terdengar kini lenyap.

Ada yang pergi ada yang ditinggalkan.

Sempat kepikir untuk kuliah di singapur tapi ga jadi.

Beasiswa ke jepang pun gagal.

Diantara episode itu w inget

waktu w melancong sendiri ke joga, maen ke tempat lo

ngerecokin lo padahal lagi ngerjain skripsi

Makan mie instant yang numpuk sisa sumbangan gempa jogja kemaren

Foto di depan gabah resto atau taman pintar

Trus ke bandung sndiri, ke ciwalk, kepagian. belum buka

Pertama kali w pergi jauh

Nyusul ke singapur sendiri

ngerecokin lo dan Sarah. Inget banget pas dia pipis dipangkuan w.

Lulus SMA w diterima di bandung

w sendiri, gak papa

Semakin kesini w menyadari

w gak bisa mengharapkan lo selalu berada disamping w.

You have your own world.

Setahun sejak lo married w menyadari keadaan w

Setahun sejak w dibandung w makin sadar

si bungsu yang manja

si bungsu yang rasanya pengen terus maen sepeda bareng

si bungsu yang rasanya ingin terus ketawa bareng di rumah

si bungsu yang sok kuat padahal leyeh

Sekarang si bungsu ini udah 20 tahun

dua dekade berlalu

di sini

di bandung

berusaha untuk mengejar mimpi

yang rasanya gak menungkin tergapai

Rasanya gak akan bisa kekejar

w jatuh, jatuh, jatuh terus

ngeluh terus

Maag terus

sakit terus

capek

dan gak ada yang bikin w lebih bersyukur

daripada

dua kakak perempuan yang hebat

dua guru luar biasa

yang bisa mengubah awan mendung menjadi pelangi

yang menjadi bara api disaat semangat w redup

yang terus- terus menerus berada di samping w

memapah w untuk terbang

mengamati w dari jauh dan

mengharapkan yang terbaik untuk w

w bersyukur memiliki kalian, w bangga ama kalian

Gak ada yang lebih indah dari ini. percaya.

_UYA_

Posted in Uncategorized | Leave a comment